icons_14 (kurang satu :D)

Selasa, 06 Maret 2012

TB Paru dan manifestasi dalam Rongga Mulut


TB Paru ialah suatu penyakit infeksi kronik jaringan paru yang disebabkan oleh basil Mycobacterium tuberculosae dan Mycobacterium Bovis.
Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Mycobakterium Tuberculose. Basil tuberkulosis berukuran sangat kecil berbentuk batang tipis, agak bengkok, bergranular, berpasangan yang hanya dapat dilihat di bawah mikroskop. Bersifat aerob, tidak berkapsul, tidak berspora, panjangnya 1- 4 mikron dan lebarnya antara 0,3-0,6 mikron. Basil tuberkulosis akan tumbuh secara optimal pada suhu sekitar 37°C dengan tingkat pH optimal (pH 6,4-7,0). Untuk membelah dari 1-2 kuman membutuhkan waktu 14-20 jam. Basil Mikobaterium Tuberkulosis anaerob tidak bereaksi terhadap pewarnaan gram tetapi bereaksi terhadap pewarnaan Ziehl-Nielsen. Tuberkulosis yang disebabkan oleh basil Mikobaterium Tuberkulosis tahan asam dan alkohol. Organisme penyebab dengan batang gram-positif baik bersifat asam maupun alkohol.

Cara penyebaran penyakit tersebut antara lain :
o   Inhalasi : melalui udara / droplet (percikan). Ke saluran pernafasan dulu à getah bening.
o   Inokulasi : melalui luka terbuka.  Dari lukanya dulu à getah bening
o   Ingesti : dari saluran pencernaan
o   Infeksi. Ex : susu yang kurang steril (microbakterium bovis). Dari sapi yang terinfeksi Tb, tidak direbus terlebih dahulu dan langsung diminum. Namun bisa juga sudah direbus tapi suhunya tidak maksimum.
o   Dari scenario termasuk : inhalasi >> dari rokoknya.

Gejala klinis dari penyakit TB yaitu :
o   Nyeri dada : tidak semuanya mengalami gejala ini, karena nyeri timbul kalau sudah sampai ke pleura. Saat menghirup dan melepaskan nafas.
o   Local : berhubungan ke paru-paru.
§  Batuk berdahak lebih dari 3 minggu : karena ada iritasi dari bronkus.
Dahak berwarna kuning karena warna dari sputumnya, serta leukositnya yang berlebihan (pembusukan dari leukositnya).
§  Sesak nafas : jika masih dalam TB ringan belum mengalami gejala sesak nafas.
o   Sistemik
§  Demam pada sore hari dan berkeringat pada malam hari
Pada siang hari terdapat matahari à bakter tidak tahan panas à demam pada sore hari (Kerja bakteri itu sering pada malam hari)
Berkeringat à infeksi pada bakteri pada malam hari meningkat sehingga menyebabkan metabolismenya meningkat (panas dan keringat).
Pada irama sirkadian yang memang meningkat pada sore dan malam hari
§  Demam subfebril
§  Malaise : tidak ada nafsu makan menyebabkan nafsu makan menurun à penurunan BB akibat perdangan yang menahun. Hilang timbul.
§  Batuk berdarah : karena pembuluh darah terbuka atau pecah. Di ulkus dinding bronkus.
Dimulai dari batuk kering à tidak menghasilkan sputum à batuk produktif à batuk berdarah.
§  Pembesran kelenjar limfe : ulser yang indurasinya kronis (lidah dan palatum)
o   Khusus
Bila kumannya menyebar ke organ yang lain. Ex : Bila sampai ke otak menyebabkan meningitis.

Patogenesis dari penyakit Tb diawali dari basil TB yang masuk ke tubuh dan akan menetap di bronkiolus dan alveolus. Kemudian bakteri tersebut akan dikenali oleh makrofag. Jika makrofag berhasil melawan basil TB maka akan didetruksi basil TB, namun jika makrofag tidak berhasil melawan basil TB, kondisi makrofag lemah dan juga dipicu oleh system imun tubuh yang menurun, maka basil TB tersebut akan berkembang dalam tubuh makrofag dan akan didetruksi makrofag. Dari proses detruksi makrofag dihasilkan bahan kemotaksik yang menarik makrofag yang bermigrasi dari aliran darah ke dalam area jaringan yang meradang, kemudian akan membentuk tuberkel yaitu penumpukan makrofag dari bahan kemotaksik. Jadi untuk membunuh bakteri TB dibutuhkan limfosit T sehingga limfosit T berproliferasi memproduksi sitokin mengaktifkan limfosit T2 (menambah sintesis antibody humoral) dan limfosit T1(mengaktifkan makrofag). Keduanya mengalami respon timbal balik yakni makrofag dan limfosit T yang berhasil melawan bakteri akan melepas TNF sehingga menyebabkan detruksi bakteri à TB primer. Sedangkan makrofag dan limfosit T yang tidak berhasil melawan bakteri akan pecah dan menyebabkan penyebaran hematogen dan akan menyebar ke jaringan tubuh à TB sekunder.
Dalam TB primer terdapat 3 macam sarang, dimana sarang-sarang tersebut akan membentuk suatu tuberkel yang merupakan hasil dari fagositosit makrofag.
Sarang-sarang tersebut antara lain :
o   Sarang yang sudah sembuh à sarang bentuk ini tidak perlu pengobatan lagi
o   Sarang aktif eksudatif à sarang bentuk ini perlu pengobatan yang lengkap dan sempurna
o   Sarang yang berada antara aktif dan sembuh à sarang bentuk ini dapat sembuh spontan, tetapi mengingat kemungkinan terjadinya eksaserbasi kembali, sebaiknya diberi pengobatan yang sempurna juga.
Hubungan antara penyakit TB dengan tekanan darah dan kebiasaan merokok
o   Dengan kebiasaan merokok : dapat merusak mekanisme pertahanan dari paru-paru (dari bulu-bulu getarnya) à mudah menginfeksi paru-paru (sulit ditolak oleh bahan-bahan dari rokok.)
Nikiotin diserap lendir dan jaringan paru à penimbunan mucus à peningkatan pertumbuhan bakteri (pergerakan silia dihambat)
Merokok à terjadi luka kecil di mukosa à pembentukan lesi
o   Tekanan darah : aliran darah makin tinggi à penyebaran makin cepat
Tb à jumlah leukosit yang meninggi, limfe rendah à Laju endap darah mengendap.
Siapapun bisa beresiko terkena penyakit TB misalnya seorang perokok, orang yang lebih dekat dengan penderita TB, petugas medis, serta pemakai obat yang mempengaruhi system pertahanan. ex : yang dikemoterapi, HIV, penyakit menahun. Namun penyakit TB dapat dicegah dengan beberapa hal.
Pencegahan untuk penyakit ini ada 3 antara lain :
o   Pencegahan Primer
§  Menghindari kontak langsung dengan penderita
§  Meningkatkan kekebalan tubuh dengan vaksin BCG.
§  Kebersihan lingkungan : ventilasi yang cukup
o   Pemeriksaan Sekunder
§  Isolasi dari penderita, pengobatan TB sec tuntas.
Jika penderita TB juga mempunyai penyakit DM maka penyembuhannya harus secara hati-hati.
§  Penderita TB tidak boleh dekat dengan penderita HIV karena akan memperparah TB
o   Pemeriksaan Tersier
§  Memberi pengobatan secara teratur dalam jangka waktu 9-12 bulan pada penderita kambuh setelah pengobatan
§  Pemberian paduan obat efektif dengan konsep DOTS

Pencegahan penyakit TB sebagai seorang dokter gigi yaitu :
o   Evalusi pasien : Dengan melakukan anamnesis secara bertahap.
o   Perlindungan diri : Memakai masker dan handscoen.
o   Imunisasi : seorang drg harus selalu update imunisasi
o   Sterilisasi dan desinfeksi
o   Laboratorium yang asepsis

Komplikasi yang dapat terjadi pada penyakit TB ini ialah sebagai berikut :
o   Komplikasi dini
§  Pleuritis adalah peradangan jaringan tipis yang meliputi paru-paru dan
melapisi rongga dinding rongga dada bagian dalam (pleura).
§  Empiema : akumulasi pus dalam rongga
§  Laryngitis TB adalah radang pangkal tenggorokan dengan gejala serak, perubahan suara dan gatal pada kerongkongan
§  Efusi pleura
§  Pneomonitis
§  Meningitis
§  Infeksi tulang
o   Komplikasi Lanjut
§  Obstruksi jalan nafas / SOPT (sindrom obstruksi pasca tb).
§  Menyebabkan kerusakan parenkim berat (fibrosis paru).
§  Karsinoma paru
§  Sindrom gagal nafas (ARDS)
o   Pada gangguan mulut : malnutrisi karena rasa sakit progresif yang dirasakan di mulut.

Penyakit TB dapat diobati dengan berbagai obat dan prosedur dibawah ini :
o   Antimikroba dalam jangka waktu yang lama (paling sedikti 6 bulan) dan harus secara berturut-turut selama 6 bulan. Jika tidak diminum diulang lagi selama 6 bulan.
o   OAT primer
Kegagalan pengobatan : asam paraamino salisilat, etionamide, tioasetazon, floroquinon, Streptomisin.
o   OAT sekunder (selama 18 bulan): ofloksasin dan siprofoksasin
§  Tahapan 2 bulan (intensif): konversi sputum dengan cepat. Menghilangkan keluhan dan mencegah efek lebih lanjut.
4 obat dalam 1 hari selama 60 kali.
INH 300 mg/tablet, rifampisin 450 mg/kaplet, pirazinamid 3tablet (1tablet 500 mg), etambutol 250 mg sebanyak 3 tablet
§  4 – 7 bulan (lanjutan): menghilangkan bakteri BTA yang tersisa , mencegah kekambuhan, Inh, rimfapisin.inh 600mg/2 tablet, R sama.
3 kali seminggu selama 54 kali dalam 4 bulan
o   Dengan OAT (obat anti tb) : yang bersifat bakterisit. Kombinasi dari 2 obat.
o   Antibiotic diawasi dibawah pengawasan, perawat klinik dada sampai benar-benar diminum. Dalam jangka waktu 6 bulan.
o   Di mukosa oral : tidak perlu dilakukan pengobatan. Tapi jika lesi timbul karena trauma maka disembuhkan dulu penyebabnya. Melakukan biopsy untuk pemeriksaan penunjang.

Prosedur pemeriksaan klinik untuk menetapkan diagnose dari TB
o   Anamnesis
o   Pemeriksaan KU
Konjungtiva mata, atau kulit yang pucat karena anemia, suhu demam sufebris, berat badan menurun.
o   Pemeriksaan fisik
Palpasi pada tempat lesinya, Perkusi dan Auskultasi.
o   Pemeriksaan radiologis
o   Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan darah, sputum, tes tuberculin (terutama pada anak-anak)
o   Pemeriksaan biologic
o   Bronkoskopi, USG, uji faal paruh, dan CT-scan.
Foto ronsen thorak : bintik difus pada paru terdapat juga kavitas.

Selain pada keadaan sistemik, TB juga mempunyai gambaran klinis pada rongga mulut. Lesi TB pada rongga mulut dapat terjadi namun jarang. Pada umumnya keterlibatan mulut secara klinis dapat terjadi secara primer, tetapi biasanya merupakan manifestasi sekunder dari TB paru. Patogenesisnya TB sampai ke rongga mulut ialah melalui sputum. Epitel di mukosa oral sensitive terhadap kuman, kuman tersebut mengiritasi Rongga Mulut sehingga terbentuk ulser-ulser (tergantung daya tahan host yg rendah) juga factor predisposisi Oral Higiennya yang  jelek.
Biasanya manifestasi dimulut  hanya ditemukan pada TB paru yang aktif, sedangkan pada penderita yang sudah mendapatkan perawatan biasanya tidak sampai ke intraoral. Manifestasi oralnya ialah berupa ulkus dengan gambaran irregular, superficial tapi terkadang juga dalam. Ulsernya sakit dan ukurannya bervariasi dengan pinggiran tidak teratur dan tertutup oleh lapisan fibrin yang berwarna kuning kelabu pada mukosa lidah, dorsum lidah, dan mukosa bibir di sudut mulut.
Selain itu juga dapat berupa Gingival Enlargement à berhubungan efek proteksi pada rongga mulut pada epitel squamos pada gusi yang menyebabkan epitelnya bertambah tebal. Osteomyelitis (jarang ditemui), Glosistis tuberkulosa : karena infeksi bakteri TB banyak di saliva terutama sputum à akan menyebabkan peradangan di sekitar lidah : karena penumpukan basil tb pada lidah. Apabila tidak ada basil-basilnya maka à tidak ada peradangan tersebut.
Prosedur pemeriksaan klinik untuk menegakkan diagnose dari manifestasi oral sebagai seorang dokter gigi ialah sebagai berikut :
o   Anamnesis
o   Pemeriksaan fisik : Intraoral dan Ekstraoral.
o   Pemeriksaan penunjang : histopatologi à biopsy, kultur
o   Analisa dan merumuskan maslah
o   Diagonosa
    • Perencanaan perawatan dan pengobatan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar